Permata atau item terkini ialah Batu Akik Tapak Jalak.Permata sejenis
ini menjadi buruan pihak tertentu kerana khasiat dan keistimewaannya.
Imej seakan tanda pangkah diatas permata adalah trademark/ciri khas
tapak jalak.Dikatakan tanda pangkah itu mewakili empat penjuru/sempadan
dunia iaitu utara,selatan,timur dan barat. Mengikut cerita/hikayat nama
tapak jalak diambil sempena nama jaguh gelanggang seluruh tanah jawa
yang tak terkalahkan ketika zamannya yang bernama Tabak Jalak (sekitar
tahun 700-1000 masehi). Dikatakan juga tapak jalak ada 9 jenis.
KUTURUNKAN PUSAKA DAN SESUNGGUHNYA YANG KUTURUNKAN ITU ILMU
KUTURUNKAN PUSAKA DAN SESUNGGUHNYA YANG KUTURUNKAN ITU ILMU Nov 23, '09
5:45 AM
untuk semuanya
Setelah mempelajari beberapa jenis senjata dari Lampung, secara tak
sengaja perhatian tertarik kepada pola/gambaran urat kayu yang tampak
pada sarung/sampir/warangka. Senjata yang saya amati adalah :
Keris Kelingi luk 19 ,
Beladau/badik Pagar Dewa ada juga yang menyebut badik Liwa,
Badik Kelingi, dan
Tungkok Pedang (tongkat Pedang)
Yang menjadi daya tariknya, karena pola urat kayu pada
sarung/sampir/warangka beberapa jenis senjata ini ternyata sama. Ini
menunjukkan bahwa kayu yang digunakan sebagai bahan
sarung/sampir/warangka telah dipilih dengan sangat teliti untuk
menampilkan pola-pola urat kayu tertentu yang unik.
Gambaran/pola yang terbentuk pada sarung/sampir/warangka senjata-senjata
tersebut adalah sebagai berikut :
· Pada satu sisi sarung terdapat gambaran garis bersilang yang
pada umumnya di sebut Tapak Jalak, di Jawa disebut juga Rajah Kala Cakra
(Ensiklopedi Keris).
· Sisi lain dari sarung berpola melingkar Puser Bumi, melingkar
seperti obat nyamuk Kul Buntet , atau setengah lingkaran Batu Lapak
Keunikan kedua jenis pola / gambar tersebut muncul pada sarung yang
merupakan kayu utuh tanpa sambungan, sehingga dapat dibayangkan
bagaimana sukarnya memilih satu bagian dari kayu ,apalagi kayu
kemuning, yang memiliki pola urat kayu tapak jalak pada satu sisi
sekaligus puser bumi atau batu lapak pada sisi sebaliknya
Di bawah ini gambar pola serat kayu pada sarung senjata
tersebut
Pola Tapak Jalak Pada Sarung Keris Kelingi/Anak Rumbai
Pola Batu Lapak Pada Sarung Keris Kelingi/Anak Rumbai
Pola Tapak Jalak Pada Sarung Beladau/ badik Pagar Dewa/Badik Liwa
Pola lingkaran (kul buntet?) pada sarung Beladau/ badik Pagar Dewa/
Badik Liwa
Pola Tapak Jalak Pada Sarung Badik Kelingi / Anak Rumbai
Pola Batu Lapak Pada sarung Badik Kelingi/ Anak Rumbai
Pola Tapak Jalak Pada Sarung Tungkok Pedang
Pola Lingkaran pada sarung Tungkok Pedang
Dapat dibayangkan betapa sulitnya menemukan kayu yang sesuai untuk bahan
sampir seperti ini pada masa sekarang, sehingga menimbulkan
pertanyaan apa sebetulnya tujuan pembuat pusaka itu bersusah payah
membuat sampir dengan pola tersebut dan menjadikannya satu pakem
tersendiri.
Kalau hanya untuk keindahan mungkin banyak pola lain yang lebih menarik
akan tetapi dengan bahan yang lebih mudah diperoleh , tidak dibatasi
pakem tertentu yang diwarnai pola rumit yang menyulitkan, mungkin ada
tujuan tertentu dari pembuat pusaka itu untuk disampaikan kepada
generasinya kelak.
Memahami Pola Tapak Jalak/Kala Cakra
Tapak Jalak /Rajah Kala Cakra berbentuk garis bersilang dengan titik di
tengah-tengah, menunjukkan filosofi sbb:
Pelajaran mengenai diri.
Empat cabang yang tergambar dalam pola tapak jalak mengisyaratkan empat
unsur alam yaitu, api, angin, air, tanah yang merupakan pembentuk tubuh
manusia. Oleh karena itu manusia menjadi alam kecil yang berada di
tengah alam besar. Manusia adalah bagian dari alam. Kesimpulannya,
manusia yang begitu kecil di tengah luasnya alam semesta ternyata jauh
lebih kecil lagi dibandingkan kebesaran Yang Maha Besar.
Empat cabang dalam pola tapak jalak juga menyiratkan empat nafsu yang
ada pada manusia harus bergerak dari nafsu amarah (api), lawamah
(angin), sufiah (air), menuju mutmainah (tanah) sehingga layak mendapat
seruan untuk kembali kepada Tuhannya. Sebagaimana difirmankan “Wahai
jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robmu dengan ridho dan diridhoi”
(Q.s. Al Fajr: 27-28)
Kesadaran tentang tempat dan waktu
Bayangkan ketika anda berada pada titik persilangan dua garis tersebut,
garis ke depan dan belakang menunjukkan waktu yang akan datang dan waktu
yang telah berlalu, sementara garis ke kanan dan kiri menunjukkan barat
dan timur.
‘ kebaikan itu ada pada saat ini ‘ dan seperti dikatakan dalam Al Qur’an
‘bukanlah kebaikan mengarahkan wajahmu ke Timur atau ke Barat ....’
(Qs. AlBaqarah: 177)
Kedamaian tidak akan kita peroleh selama kita hidup dalam angan-angan
tentang masa depan, ketakutan akan masa depan, atau penyesalan tentang
masa lalu.
Ketenangan juga tidak akan diperoleh bila kita silau dengan pandangan
kita pada sekeliling dengan melihat harta orang yang lebih kaya dan
kekuasaan orang yang lebih kuat, dsb. Terlebih lagi kita tidak akan
mencapai kedamaian kalau kita silau dengan pandangan barat atau filosofi
timur sepanjang nurani kita tidak menemukan kebenaran hakiki. Kebenaran
itu ada di sini pada nuranimu, seperti Syekh Abdul Qodir Jailani
mengatakan “ yang pertama kali paham adalah nuranimu....” (Menjadi
Kekasih Allah,Citra Media 2007hal 36)
Makna yang tersirat dalam gambar tapak jalak adalah tuntunan bagi kita
agar menjalani hidup di masa sekarang, saat ini, bukan nanti bukan
kemarin. Kejadian yang lalu biarlah berlalu, tidak bisa diulang kembali,
kejadian yang akan datang belum pasti, biarkan datang dan hadapi. Hidup
kita pun harus dijalani di sini bukan di tempat lain, jangan biarkan
pikiran kalut mengembara ke mana-mana, nikmati hidupmu di sini saat ini.
Perhatikan dan rasakan apabila kita menjalani hidup SEKARANG, tanpa
kekurangan. Semua kebutuhan telah tersedia dan telah kita peroleh . Kita
butuh makanan, telah tersedia bahkan mungkin baru saja makan. butuh
berpakaian, kita sudah kenakan. Akan bepergian, segala alat transportasi
telah ada, tinggal pilih apa yang paling nyaman dan sesuai. Sebetulnya
apalagi kekurangan yang ada pada diri kita.
Satu hal yang membuat kita merasa kekurangan dan merasa selalu dihantui
oleh ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan adalah ketika membayangkan
hal-hal yang membuat kita merasa tidak nyaman di masa NANTI, seperti
takut miskin, takut dibenci, takut ditagih hutang, dan segala macam
ketakutan lain yang mengganggu ketenangan hati.
Semua penjuru mata angin tunduk pada yang satu
Apabila kita sadar bahwa diri kita sangat kecil dan kita telah
membebaskan diri dari ikatan pengharapan maupun ketakutan pada makhluk,
kita akan mencapai kesadaran berikutnya bahwa tujuan hidup kita yang
seharusnya adalah apa yang menjadi tujuan penciptaan kita oleh Yang
Maha Pencipta. Tujuannya adalah seperti difirmankan “ Dan tidak
kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah” (Q.s.Adz Dzariyat
:56)
Semua mahluk di segala penjuru harus menundukkan diri pada Yang Satu.
Kesadaran kita kepada Yang Satu tidak akan muncul selama kita masih
sibuk dengan segala sesuatu di segala penjuru. Syekh Abdul Qadir Jailani
mengatakan “apabila seseorang tidak lagi menggantungka hatinya pada
makhluk, tentu dia akan menggantungkan hatinya dengan Allah, yaitu
khaliqnya,. Maka Allah akan memperkayakan dirinya dengan makrifat dan
kedekatan dengan-Nya.”
Di sini timbul kesadaran bahwa ada satu garis imajiner dari tengah
persilangan ke atas menuju Yang Esa
Gabungan gambar Tapak Jalak sebagaimana tergambar dalam satu sisi sarung
/warangka dengan kul buntet (gambar Lingkaran seperti obat nyamuk)
pada sisi lain sarung, dengan pusat lingkaran kul buntet bertemu
ditengah persilangan garis, di Lampung ada yang menyebutnya Gayung Angin
(penyebutan nama ini sepertinya pengaruh Pagar Ruyung) sedangkan di
Betawi disebut Panca sona.
Gambaran tapak jalak, gayung angin, pancasona sering dihubungkan dengan
ilmu kanuragan tetapi saya lebih memandang ini sebagai ajaran untuk
menyampaikan kebenaran tentang diri. Bagaimana kita memandang alam,
ruang, waktu, diri, dan hubungannya dengan Sang Pencipta persis seperti
konsep-konsep tasawuf dalam Islam.
Hubungan antara Rajah Kalacakra dan Hikayat Paksi Empat dan Buay Bulan
Konon berdasarkan cerita dari tambo-tambo masyarakat
Lampung pembentukan Lampung Islam terjadi lebih kurang pada abad ke-14.
Ceritanya berbeda-beda tapi garis besarnya hampir serupa. Diawali dengan
kedatangan Empu Belunguh dengan tujuh orang pengiringnya dari
pagaruyung bergabung dengan umpu sahujan di Ranau, ada yang menyebut
umpu paksi dengan delapan anaknya dari Pagaruyung (ada juga yang menduga
dari Samudera Pasai) bergabung dengan Putri Bulan dan Benyata, ada juga
yang mengatakan tiga umpu dari Pagaruyung dan satu Puyang dari Baka
Kahyangan (dr Pajajaran) kemudian bergabung dengan penduduk dan
tokoh-tokoh Lampung di Ranau dan Cenggiring seperti Puyang Sakti jurai
dari Naga Berisang, Puyang Kuasa (buay Semenguk), Puyang Serata di
Langit (Buay Nuwat),Puyang Pandak Sakti) dll.
Intinya pendakwah yang datang dan tokoh-tokoh asli Lampung
yang sudah Islam membentuk persekutuan dan berhasil mengalahkan suku
Tumi, yaitu penduduk Lampung /Sekala Brak kuno pra Islam yang tetap
mempertahankan kepercayaan lama dipimpin Ratu Sekarumong.
Ratu Sekarumong dan pengikutnya tidak mau menerima Islam
karena masih menyembah Lemasa pak Kepampang (pohon nangka bercabang
empat), pohon ini disembah karena memiliki keajaiban. Getah yang keluar
dari salah satu cabangnya dapat menimbulkan penyakit sementara getah
dari cabang yang lain bersifat menyembuhkan.
Setelah mengalahkan kerajaan Sekala Brak kuno/suku Tumi, para
pendakwah ini sebagai pemenang menebang pohon nangka bercabang empat
tersebut dan menjadikannya pepadun (tahta) kemudian mendirikan kerajaan
Sekala Brak baru yang bernafaskan Islam. Wilayah sekala brak kuno
dibagi menjadi empat bagian yang dipimpin empat umpu/datuk/raja yaitu:
Umpu Bejalan Diway berkuasa di Paksi Buay Bejalan Diway dan
memerintah di Puncak Dalom.
Umpu Nyerupa berkuasa di Paksi Buay Nyerupa dan memerintah di Tampak
Siring.
Umpu Belunguh berkuasa di Paksi Buay Belunguh dan memerintah di
Barnasi.
Umpu Pernong berkuasa di Paksi Buay Pernong dan memerintah di
Hanibung.
Ditambah dengan
Si Bulan tinggal di Cenggiring Way Nerima namun Si Bulan berpindah
dan keluar dari Sekala Brak.
Umpu Benyata di Luas namun tidak memiliki daerah kekuasaan karena
tidak menjadi Paksi.
Keempat raja ini yang persekutuannya sangat erat dengan Putri Bulan
melahirkan ungkapan ‘ cumbung pak kelima sia ‘(empat mangkok yang kelima
juga)
Cerita di atas tampaknya menunjukkan filosofi yang sama dengan rajah
tapak jalak/ kala cakra. Lemasa pak kepampang (nangka bercabang empat)
menunjukkan empat cabang yang mengisyaratkan pengetahuan mengenai unsur
alam dan pengenalan terhadap diri.
Cerita tentang empat paksi/ empat buay yang dipimpin empat raja ditambah
putri bulan, yang diistilahkan dengan ‘cumbung pak kelima sia ‘(empat
mangkok kelima juga) menunjukkan filosofi yang sama. Empat paksi,
mewakili empat garis pada gambar tapak jalak dan Putri bulan menunjukkan
titik/lingkaran ditengah-tengah.
Lalu apa perbedaan keyakinan antara penduduk suku Tumi dengan pohon
nangka bercabang empatnya, dengan penduduk sekala brak pasca Islam
dengan Paksi Empat dan Buay Bulan?
Sesungguhnya cerita orang-orang dahulu kebanyakan berupa perumpamaan
dengan maksud untuk menyampaikan nasehat kepada anak cucunya.
Pohon nangka bercabang empat dengan cabang yang dapat membuat penyakit
dan yang dapat menyembuhkan adalah ibarat manusia yang telah
mengembangkan dirinya sedemikian rupa. Persis seperti pohon yang tumbuh
besar dan kuat, sang manusia ini memiliki berbagai kelebihan baik
kekuatan/kesaktian, ilmu pengetahuan, harta dsb sehingga dengan
kekuatannya itu dapat menimbulkan kesejahteraan bagi orang di
sekelilingnya yang dia sukai, maupun menimbulkan kesengsaraan kepada
orang lain yang dibenci.
Di sini letak kesalahannya karena pengembangan pribadi yang sedemikian
hebat mengakibatkan seseorang menjadi pongah dan secara tidak sadar
telah menuhankan dirinya sendiri. Pohon/pokok dirinya mungkin juga
membangggakan dan menuhankan pokok keturunannya. Mengenai hal ini
mungkin lebih jelas cerita tentang Firaun yang karena kekuasaan kekayaan
dan kekuatannya akhirnya mengaku dirinya sebagai Tuhan yang dapat
menyengsarakan atau sebaliknya, membahagiakan orang lain.
Berbeda dengan Paksi Pak (Empat Paksi ) dan Buay Bulan, para penguasa
baru yang berlandaskan Islam ini menunjukkan bahwa kesadaran/pengenalan
tentang alam, waktu, dan diri manusia ini pada akhirnya harus menjadikan
manusia sadar tentang kekerdilan dirinya. Ini ditunjukkan dengan titik
/lingkaran kecil dalam gambar tapak jalak) dan oleh karena itu manusia
harus menjadi wadah yang terbuka (ibarat mangkok) menghadap kepada
Tuhannya sebagai hamba dan wadah yang siap menerima perintah Tuhannya
sebagai khalifah. Ini diibaratkan dengan putri bulan yang merupakan
perumpamaan bagi benda langit yang memantulkan cahaya dari matahari.
Al Ghazali dalam membahas hati mengatakan lebih kurang sebagai berikut
“hatimu adalah cermin yang bila kau bersihkan dan kau arahkan ke arah
yang tepat dia akan memancarkan...” penulis juga teringat buku Tao the
Cing dimana Lao tzu mengatakan ” jadilah seperti danau di lembah apabila
airnya tenang maka akan memantulkan...” alangkah sesuainya
kalimat-kalimat tersebut dengan perumpamaan putri bulan di Cenggiring
Way Nerima (Putri bulan di daerah Cenggiring di Sungai Nerima).
Betapa dalam ajaran yang disampaikan oleh nenek moyang kita. Melalui
gambaran pada pusaka peninggalannya serta hikayat yang dituliskan dan
diceritakan secara turun-temurun, seolah mereka tersenyum pada kita anak
cucunya seraya berkata ‘Kuturunkan pusaka dan sesungguhnya yang
kuturunkan adalah ilmu dan yang kusampaikan adalah cerita. Namun
sesungguhnya yang kusampaikan adalah ilmu, maka pelajarilah’
Berdasarkan kepada paparan di atas, saya ingin menyampaikan permohonan
maaf kepada para sesepuh serta masyarakat Lampung, apabila ada paparan
yang tidak sesuai dan kurang berkenan. Saya tidak bermaksud mengangkat
salah satu buay dibanding buay lainnya. Perdebatan mengenai berbagai
jurai dan kompleksitas masalahnya pun bukan menjadi fokus perhatian
saya. Mengenai buay lain yang tidak disebutkan karena saya pikir hanya
untuk kemudahan dalam usaha menyampaikan kebenaran secara tersirat bukan
untuk mengecilkan peran buay lainnya. Hikayat empat paksi dan buay
bulan dalam ungkapan ‘cumbung pak kelima sia’ adalah cerita untuk
menyampaikan ilmu bukan pengesahan mengenai buay mana yang lebih
berperan atau yang lebih unggul atau bahkan yang lebih dituakan.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Saya sadar, mungkin banyak
kekurangan dan kesalahan yang telah saya paparkan, oleh karena itu saya
sangat mengharapkan kritik dan nasihat dari para sahabat untuk
meluruskannya, sehingga paparan ini bisa bermanfaat bagi yang
memerlukannya sebagai tambahan pengetahuan.
Malang 18 Nopember 2009
Kata kunci: filosofi, pusaka, sarung
Sebelumnya: Tombak Biring Lanang
Selanjutnya : AJI SAKA DARI LAMPUNG KE JAWA SATU STRATEGI PENYEBARAN
ISLAM
balas
Tautan Bersponsor
Shop at the Multiply Marketplace
Low Prices on Shoes, Jewelry, Clothing, Food, Accessories, T-Shirts,
Electronics and much more. Safe Shopping from friendly, trusted sellers.
Great deals on local items.
KomentarKronologis Kebalikan Berdasar topik
abastajab
balas
abastajab menulis on Nov 23, '09
Terima kasih tuan. Saya juga pernah diceritakan mengenai hal ini. Namun
sekarang ia amat berbeza. Tukang pembuat sampir, sarung dan juga hulu
terlalu amat sukar untuk memenuhi hajat. Bukan sahaja hajat pembuat
malahan hajat sipeminta agar dibuat begini atau begitu untuk sampir dan
sarung senjata mereka. Namun masih kedapatan pembuat sampir ini yang
tahu akan ilmu ini. Biasanya ia terlalu lambat untuk menyiapkan setiap
penempahan bukan karena bahan yang susah didapati namun faktor waktu
yang sesuai, hari dan bulan yang amat bagus untuk memulakan ukiran juga
diambil kira. Hanya kesabaran kita sahaja yang bisa mengobati segala
kemuskilan ini.
husnul70
balas
husnul70 menulis on Nov 24, '09
terimakasih tuan Abas karena mau berbagi ilmu di sini, tambahan ilmu
bagi saya bahwa untuk memulai mengukir sampir seperti ini diperlukan
perhitungan waktu yang sesuai, dan saya bersyukur bahwa di Malaysia
masih terdapat pembuat sampir yang mengerti dan memegang ilmu membuat
sampir semacam ini.Mungkin di Lampung sendiri ilmu memilih serat kayu
dan proses pembuatan sarung seperti ini sudah punah meski saya sangat
berharap masih ada yg memiliki ilmunya
Saya rasa meskipun lama dan harus bersabar tetap layak kita memesan
sarung sejenis kepada pembuat sarung yg masih mempertahankan ilmu lama
ini, dengan begitu selain memperoleh sampir yang unik saya kira kita
juga turut melestarikan budaya.
dewangsakesuma
balas
dewangsakesuma menulis on Nov 24, '09
menurut silsilah yang ada di tulang bawang puyang nagabrisang yang
menurunkan orang2 yang ada di tulang bawang dan dalam cerita adat yang
ada putri bulan keluar dari sekala berak ke Tulang bawang menurunkan
salah satu dari 4 marga yang ada yaitu buai bulan
husnul70
balas
husnul70 menulis on Nov 24, '09, telah disunting on Nov 24, '09
bang kesuma terimakasih, Puyang naga brisang menurunkan puyang sakti,
puyang sakti menurunkan 2 org: putri bulan dan puyang junjungan sakti,
putri bulan menurunkan buay bulan puyang junjungan sakti tdk disebut
keturunannya
http://institut-lampungologi.blogspot.com/2009/05/asal-usul-suku-lampung.html,
menurut catatan dari Pugung Bambang-Krui, Raja Naga Berisang menurunkan
pemuka Sakti Dewa dst sampai pugung Bambang di Krui sekarang, nama2
sering berbeda disebabkn adok/gelar, sering satu orang mempunyai banyak
nama/ gelar. Naga Berisang ada jg yg menyebut minanga berisang
Tambahkan Komentar
Pasar Filipina · Pasar Indonesia · Buka Toko, Gratis
© 2012 Multiply · Indonesian · Perihal · Blog · Syarat · Privasi ·
Perusahaan · Iklankan · API · Bantuan · Sitemap